layaknya seorang Bung Tomo
Layaknya
Seorang Bung Tomo
ILham
Kasim
Tak terasa tahun-tahun yang ia lalui masih sama seperti tahun sekarang.
Tanpa adanya agenda-agenda penting yang harus ia buat. Di malam itu tak banyak
kesibukan yang harus ia buat, sementara kepalanya masih sibuk tertunduk
memperhatikan layar tablet yang berukuran 7 inc itu. Bola matanya seakan
membesar seperti layaknya seekor singa yang sedang melihat mangsanya yang siap
ia terkam. Sementara jari jemarinya yang lentik itu tengah asik mengusap layar
tablet dari atas hingga kebawah seperti halnya jari-jari seekor hewan buas yang
siap berlari untuk menerkam mangsanya. Masih memperhatikan layar tablet itu, di
carinya situs-situs menarik di internet yang memuat sejarah-sejarah
kepahlawanan. Kata "salut" selalu ia ucapkan setelah ia membaca
artikel-artikel dari berbagai blog. Ia selalu salut akan perjuangan para
pahlawan yang telah bersusah payah untuk mempertahankan negara ini.
Penglihatanya
seakan buram ketika ingatannya mulai bekerja keras lagi, ketika banyaknya
remaja seusianya yang selalu lupa akan hari-hari nasional kepahlawanan. Tak
jarang membuat ia bergumam "Apakah ingatan mereka telah melampaui batasan
ingatan para lansia?"
Tapi hal
itu tak lantas membuat semangatnya hilang untuk membuat para remaja seusianya
untuk membangkitkan semangat kepahlawanan di dalam diri mereka. Tak akan ia
biarkan untuk tahun ini mengalami kegagalan seperti tahun kemarin.
Cukup lama
bagi matanya untuk menatap layar tablet itu, hingga akhirnya ia temukan cara
untuk rencananya itu. Malam semakin larut, tak terasa jam dinding di kamarnya
telah menunjukan pukul 01:00 pagi. Rasa kantuknya juga ikut mengiringi
kesunyian malam itu. Matanya masih terbuka melihat gaya Bung Tomo dalam poster
yang terpampang di dinding kamarnya. Ingin sekali rasanya ia menjadi seorang
Bung Tomo. Tak jarang ia mengikuti gaya seorang Bung Tomo sambil tertawa
kecekikan di depan cermin. Sudahlah malam sudah larut.
"Hoooaam..
Selamat tidur Indonesiaku"
Bangun pagi telah menjadi tradisinya
sebagai seorang siswa, segera ia paksakan tubuhnya itu untuk segera berlari
menuju kamar mandi. Langkah kakinya seakan terhenti ketika pandangannya beralih
ke sebuah kalender yang menunjukan bahwa hari ini adalah 9 November. Tak banyak
waktu yang ia miliki untuk segera mempersiapkan segalanya.
10
November, kalimat itu masih saja berputar-putar di ingatannya seakan kalimat
itu sedang melakukan joging di pagi hari. Hingga akhirnya ia sampai di sekolah,
kalimat itu masih saja berputar-putar di dalam ingatannya.
"Dipta!
Kamu kenapa? Kayak banyak pikiran aja kamu" Seorang siswi menghalangi
langkah kakinya untuk masuk kedalam ruang kelas.
Tak ia
hiraukan pertanyaan itu. Yang ia pikirkan adalah kata apa yang harus ia katakan
kepada teman-temannya nanti. Saat bel jam istirahat berbunyi, iapun
memberanikan tubuhnya yang kaku itu untuk melangkah ke depan kelas. Selalu ia
tanamkan sikap kepahlawanan di dalam dirinya hingga ia bersusah payah untuk
mengusir rasa gugup di dalam dirinya.
"Teman-teman..
Apa kalian tidak ingat bahwa besok adalah hari pahlawan?"
Suasana
yang tadinya ribut berubah seketika hening ketika suaranya dengan lantang
mengucapkan kalimat itu. "Jika aku punya cermin yang besar, aku ingin
melihat ke cermin apakah gayaku sudah seperti Bung Tomo atau tidak" ia
tertawa kecil di dalam hatinya.
"Kita
ingatlah.. Tapi apa masih zamannya kah untuk memperingatinya?" jawab
seorang siswa yang duduk di bagian paling belakang.
Seketika
suasana hening itu pecah dengan canda tawa para siswa.
"Kalian
sangatlah tidak bersyukur, apa kalian tidak dapat membayangkan betapa susahnya
para pahlawan untuk mempertahankan negara ini? Dan sekarang! Apa kalian
memperingatinya? Apa salahnya jika kalian bisa memperingatinya untuk sekali
saja dalam hidup kalian! Apakah hari-hari patriotik tidak pernah terlintas di
pikiran kalian? Ayolah! Buka pikiran kalian! Apa kalian sudah membalas
jasa-jasa mereka? Apa kalian dapat mengganti tetesan-tetesan darah yang mereka
tumpahkan untuk negara ini? Walaupun hanya dengan memperingatinya apa susahnya?
Kita sebagai generasi muda, yang seharusnya memperjuangkan dan mempertahankan
kesatuan negara ini. Tapi lihat! Apa balasan kita sekarang? Tidak ada!"
Kali ini
ia merasa bahwa ia layaknya seorang Bung Tomo yang tengah berpidato di depan
kelas. Hingga ia tak sadar bahwa teman-temannya memperhatikannya dengan serius.
Sepertinya tak ada tawa yang akan pecah memenuhi isi ruangan itu. Hanya saja
suara aplous yang terdengar. Ia tak menyangka hal ini sebelumnya,
"sepertinya ini akan berhasil" Gumamnya.
Panasnya terik matahari siang itu
membuat peluhnya bercucuran, ia tak bisa membayangkan jika peluh itu berganti
darah yang terus bercucuran membasahi tubuh. Tapi ini tak seberapa dengan
pejuangan para pahlawan yang bersusah payah untuk mempertahankan negara ini agar
cita-cita negara ini akan terus hidup. Panasnya tarik matahari siang itu
membuat kerongkongannya kering layaknya lahan-lahan persawahan yang tengah
dilanda kekeringan. Segelas air putih telah berhasil membasahi kerongkongannya.
Masih
dengan kegiatan yang sama, di bukanya situs-situs kemarin seakan matanya tak
pernah bosan untuk membaca situs-situs tersebut. Di unggahnya status-status di
akun sosial medianya, tak lupa ia cantumkan kata "Special Hari
Pahlawan" tak lupa juga ia buatkan hastag khusus hari pahwan di twitter
agar ia bisa melihat sebesar mana antusias masyarakat indonesia untuk mengirim
tweet dengan hastag tersebut. Semuanya selesai, segera ia matikan tabletnya
seakan ia tak sabar untuk melihat hasil kerjanya besok pagi.
Keesokan
harinya ketika baru saja ia hidupkan tabletnya, ia terkejut ketika melihat
beberapa tweet yang di tweetnya kemarin mendapat banyak Retweet dari beberapa
pengguna akun twitter di papan notifikasi tabletnya. Tak jarang hastag yang ia
buat telah ada ribuan tweet. Hari itu ia senang sekali, belum lagi di
sekolahnya di buat banyak kegiatan untuk memperingati hari Pahlawan di hari
itu.
Senyuman
kini terlukis di wajahnya, usahanya kini membuahkan hasil. Usaha yang telah
bertahun-tahun ia rencanakan kini berhasil. Namun ini tidaklah seberapa, dengan
usaha para pahlawan yang berusaha untuk mempertahankan negara ini.
Tak lupa
ia panjatkan walau hanya beberapa kalimat doa yang ia ucapkan kepada
Pahlawannya. Sebagai bentuk rasa syukur atas apa yang selama ini mereka lakukan
untuk negara ini.
Tak perlu
seberapa sering ia jatuh untuk gagal, yang terpenting adalah seberapa sering ia
berjuang demi apa yang ia inginkan.
Komentar
Posting Komentar