Ketika Cinta Sunset Mengalahkan Cinta Sunrise
Bagian I
"Sebatas Perkenalan"
Bulan purnama terlihat lebih anggun malam ini. Mungkin hanya perasaanku atau sinarnya malam ini memang berbeda? Disana, pada bagian outdoor kafe ini, sinar bulan itu membias menyirami kalian. Kalian yang sedang bahagia dalam percakapan interpersonal berdua. Kalian yang selalu datang ke kafe ini dalam damba dan saling mencinta.
Sementara aku?
Tidak perlu terburu-buru mengetahui siapa aku. Malam masih muda, lagi pula obrolan kalian masih panjang. Dan aku masih ingin menjadi pengamat di balik meja bar sebelum ku beritahu siapa diriku.
Dua cappucino yang kalian pesan telah ku buatkan dan siap diantar ke meja kalian. Tapi khusus untukmu, wanita berambut lurus sebahu. Setiap kamu datang, kamu selalu memesan creamer lebih banyak dalam kopimu. Lantas aku bertanya mengenai selera tinggimu terhadap creamer. Tapi kamu malah tersenyum, senyuman manis yang lantas tak mampu ku beri arti.
"Mas.. Saya pesan secangkir kopi tapi jangan lupa creamernya di banyakin ya!"
Suara wanita itu itu masih terngiang di telingaku meski aku telah berjalan menjauh dari meja bar tempat wanita itu berada.
Secangkir kopi panas dengan cremer yang sengaja ku buat lebih banyak siap untuk diantar ke meja wanita itu. Wanita yang selalu datang ke kafe ini tapi aku sendiri belum pernah menanyakan siapa namanya. Mungkin inilah saatnya.
"ini pesananya, ada lagi?"
Aku berharap mungkin setelah ini akan terjadi obrolan panjang diantara kami. Namun segera ku tampar pipiku berkali-kali agar aku tidak akan larut bersama nyanyian mimpi dimalam ini.
(tidak-tidak.... Tidak akan terjadi obrolan diantara kami, pasti wanita ini juga tidak menginginkan obrolan itu!) gumamku.
"udah nggak ada pesanan lagi kok!"
"oh! Ya sudah saya permisi dulu, silahakan diminum kopinya" kataku sambil mempersilahkan wanita itu untuk segera meminum kopi itu.
Akupun berjalan lagi ke tempat dimana semestinya aku duduk, namun di tengah-tengah perjalanku menapak lantai kafe ini yang semakin menjauh
"Oh ya mas.. Nama kamu siapa? Kita setiap hari sering ketemu di kafe ini, tapi kamu kok nggak pernah ngenalin diri kamu?
Suara itu, iya suara itu. Segera ku palingkan tubuhku hingga berputar 180 derajat dan menghadap ke arah wanita itu.
"Saya, maksud kamu?"
"iya, siapa lagi? Ayo duduk bareng!"
Wanita itu mengajakku untuk duduk dan berkenalan dengannya. Tapi aku belum siap untuk memberitahukan siapa aku sebenarnya. Aku hanyalah seorang Barista, sudihkah ia berjabat tangan denganku?
Ah! Sudahlah aku juga menginginkan hal ini. Segera ku langkahkan kakiku ke meja bar tempat gadis itu berada.
"Kenalin.. Namaku Anita! Nama kamu siapa?"
Wanita ini menjulurkan tangannya ke arahku. Tanpa harus berfikir apapun lagi akupun menyambut tangannya yang sedari tadi menjulur itu dengan menjabatkan tangan diantara kami berdua.
"Aku Agam"
Malam itu.. 08 Desember
*****
Malam sudah larut. Tak ku sangka perkenalan kita hanya sebatas dalam sebuah perkenalan nama saja. Tapi tak apalah itupun sudah lebih dari cukup bagiku dari pada harus terus penasaran untuk mengetahui siapa namanya.
Bersama hembusan angin malam itu perlahan-lahan ingatan tentang kejadian tadi semakin memburam dari pikiranku.
Dinginnya kota ini membuat aku ingin sekali memeluk secangkir kopi raksasa yang hangat agar dapat mengusir angin-angin bandel ini yang semakin menusuk hingga ke bagian kulit terdalam.
Dengan mengendarai sepeda motor yang sudah kelihatan tua ini, ku telusuri tiap-tiap sudut kota ini untuk mencari secangkir kopi hangat raksasa untuk ku peluk. Tapi seperti itulah diriku, selalu membayangkan hal-hal yang tabuh untuk menjadi sebuah kenyataan.
Menelusuri tiap sudut jalan di kota ini terhenti di sebuah kontrakan yang berkuran kira-kira 20×10 meter.
Memangnya itu tempat tinggal siapa lagi, kalau bukan tempat tinggalku.
Di kontrakan kecil inilah aku dan ibuku tinggal, ruangan yang terasa sempit dan hanya mempunyai dua kamar tidur saja. Semenjak kepergian ayahku, hidup kami berdua terasa sengsara. Terlebih ayah tidak meninggalkan apapun untuk kami terkecuali hanyalah hutang yang bisa di bilang jumlahnya sangat fantastic. Hingga ibu terpaksa harus menjual segalanya termasuk rumah kami. Aku rela mengorbankan kuliahku hanya untuk membantu ibu melunasi hutang-hutang ayah. Berhenti kuliah dan bekerja sebagai barista di salah satu kafe di kota ini terkadang membuatku meneteskan butiran-butiran air yang memang tak ku inginkan jatuh, namun apapun itu pasti akan tetap jatuh. Hidupku terlalu sengsara.
Perlahan-lahan aku masuk kedalam rumah. Ku lihat dari balik tirai kamar ibuku telah tertidur lelap. Nampaknya dia sudah terlalu lama menungguku sampai dia bisa tertidur masih dalam keadaan duduk dengan kepala yang masih tertunduk.
Dalam setiap sujudku diatas sajaddah berwarna biru itu selalu ku sisipkan doa untuk ibu. Kalaupun nafas ini tak mengizinkan untuk ia di hembuskan lagi. Apapun itu, akan ku lakukan untuknya. Sesosok wanita tua yang telah merawatku lebih dari 18 tahun. Di dalam keheningan malam kurenungkan nasibku kembali. Walaupun kepala ini harus bolak-balik terbentur ke dinding putih yang keras itu.
Tapi selalu ku coba untuk melupakan segalanya. Meskipun otakku telah bekerja keras untuk mencerna ingatan itu agar larut entah harus dalam bentuk apa. Tetap tak bisa.
Kejadian itu..
15 Maret setahun yang lalu..
Tapi tak perlu di ceritakan. Cerita itu terlalu besar dan sesak hingga aku sendiri tak mampu lagi untuk bernafas dan otakku tak mampu untuk mencernanya hingga lumat.
Kuletakkan tubuhku hingga dalam keadaan rilex. Kejadian tadi masih saja berputar-putar di kepalaku hingga aku tampak seperti orang gila dengan senyuman manis yang memang di mata orang lain tak ada artinya.
"Kamu belum tidur Agam?"
Suara itu tiba-tiba terdengar dari balik tirai kamarku. Kemudian ibu datang menghampiriku
"Kok senyum-senyum sendiri?"
"Ga kenapa-napa kok bu... Cuma tadii.."
"Cuma apa?"
"Sudahlah bu.. Ibu tidur aja, ibu kan capek! Sini biar aku anter ke kamar ibu ya!" kataku menawarkan.
****
Suara lolongan anjing subuh itu seketika membangunkanku. Ku sempatkan waktu yang tersisa ini untuk shalat sebelum aku berangkat ke pasar untuk membawakan barang dagangan ibu ke orang kepercayaannya.
"Ya Allah.. Sehatkanlah ibuku, sayangi dia Ya Allah.. Sebagaimana engkau menyayangi hamba-hambamu yang beriman. Panjangkanlah umurnya, sampai aku bisa membangunkan senyuman di bibirnya ketika ia melihat aku sukses nanti. Amin.
Doa itu lagi yang aku ucapkan. Doa yang selalu ku panjatkan dengan tangan penuh kerendahan untuk meminta di atas sajaddah itu lagi.
Sejuknya udara di pagi ini tak lepas dari pemandangan indah di ufuk timur. Keindahan masih terpancar di balik gunung itu. Cahaya Sunrise. Kini telah menyinari sebagian kota kecil ini.
"Indah" kata itu terucap.
****
Mentari semakin menunjukan keganasannya, panasnya kini seakan menusuk hingga bagian kulit terdalam. Asap-asap knalpot motor racing anak-anak sekolahan seakan membuatku sedikit tidak bisa bernafas, rasanya sesak sekali. Mungkin olinya belum diganti tapi dengan bangganya mereka memainkan asap-asap tebal itu di depan motorku.
Entah berapa lama lagi lampu merah ini akan berubah warna, rasanya aku ingin sekali menyumpal knalpot mereka dengan jaket yang sedang ku pakai.
5,4,3,2,1 segera mereka melaju kencang.
Setelah motor tua yang aku kendarai ini berjalan sejauh 500 meter, tiba-tiba penyakit motor tua ini kembali kambuh.
"Sial!, kenapa harus mogok sekarang sih? Telat 5 aja nanti gajiku bisa di potong lagi!"
Tak ada bengkel di sekitar sini, ku stater motor ini berkali-kali.
"Kalo gue udah punya duit, gue ganti lo baru tahu!" kataku sebal sambil menendang kecil motor tua itu.
"Bengkel" ku cari tempat dengan logo itu di sekitar lokasi itu, tapi seakan keadaan tidak berpihak padaku saat ini. 10 menit berlalu, tak ada orang yang dapat ku mintai bantuan.
Di tengah lamunanku sambil menopang dagu di tepi jalan untuk menunggu bajaj, sebuah mobil sedan berwarna silver tengah kenuju ke arahku. Pengendara itu kemudian menurunkan kaca mobilnya.
"Hey! Kamu ngapain di sini?"
"Anita?" aaa..aa..aku lagi nungguin bajaj, motorku mogok nih!" jawabku terbata-bata. Keindahannya seolah menghipnotis suasana panas saat ini, lidah api matahari seakan mengilang berganti butiran-butiran salju.
"Kamu mau ngak aku anterin?"
Keindahannya, begitu....
"Halooo... Kamu mau ngak aku anterin?" katanya sambil melambaikan tangannya kearah wajahku.
Lamunanku terhenti..
"Aaapa?.. Apa?"
"Kamu mau ngak aku anterin? Kamu udah telat kan?"
"Iya"
Tak kusangkam dia begitu baik, tak hanya cantik. Namun dia bagaikan penolong bagiku, hingga akhirnya akupun naik mobil bersamanya. Di putarnya lagu-lagu klasik era 90-an di dalam mobil sedannya itu.
"Kamu pecinta lagu klasik ya?" tanyaku sambil mentapnya.
"Lumayan suka sih! Oh ya,nanti motor kamu aku aja yang bawain ke bengkel biar nanti kamu abis kerja aku anterin ke bangkel" Jawabnya sambil menawarkan.
"Udah, ngak apa-apa kok! Aku bisa sendiri"
"Kamu ngak usah gengsi gitu ah!" katanya sambil tertawa kecil.
Tak kusangka kamipun sampai di Cafe tempat aku bekerja. Tepat, jalan Patimura No. 20. Akupun turun sambil mengucapkan "Terima Kasih ya"
Sambil melambaikan tangannya, diapun berbalik arah.
Bagian I
"Sebatas Perkenalan"
Bulan purnama terlihat lebih anggun malam ini. Mungkin hanya perasaanku atau sinarnya malam ini memang berbeda? Disana, pada bagian outdoor kafe ini, sinar bulan itu membias menyirami kalian. Kalian yang sedang bahagia dalam percakapan interpersonal berdua. Kalian yang selalu datang ke kafe ini dalam damba dan saling mencinta.
Sementara aku?
Tidak perlu terburu-buru mengetahui siapa aku. Malam masih muda, lagi pula obrolan kalian masih panjang. Dan aku masih ingin menjadi pengamat di balik meja bar sebelum ku beritahu siapa diriku.
Dua cappucino yang kalian pesan telah ku buatkan dan siap diantar ke meja kalian. Tapi khusus untukmu, wanita berambut lurus sebahu. Setiap kamu datang, kamu selalu memesan creamer lebih banyak dalam kopimu. Lantas aku bertanya mengenai selera tinggimu terhadap creamer. Tapi kamu malah tersenyum, senyuman manis yang lantas tak mampu ku beri arti.
"Mas.. Saya pesan secangkir kopi tapi jangan lupa creamernya di banyakin ya!"
Suara wanita itu itu masih terngiang di telingaku meski aku telah berjalan menjauh dari meja bar tempat wanita itu berada.
Secangkir kopi panas dengan cremer yang sengaja ku buat lebih banyak siap untuk diantar ke meja wanita itu. Wanita yang selalu datang ke kafe ini tapi aku sendiri belum pernah menanyakan siapa namanya. Mungkin inilah saatnya.
"ini pesananya, ada lagi?"
Aku berharap mungkin setelah ini akan terjadi obrolan panjang diantara kami. Namun segera ku tampar pipiku berkali-kali agar aku tidak akan larut bersama nyanyian mimpi dimalam ini.
(tidak-tidak.... Tidak akan terjadi obrolan diantara kami, pasti wanita ini juga tidak menginginkan obrolan itu!) gumamku.
"udah nggak ada pesanan lagi kok!"
"oh! Ya sudah saya permisi dulu, silahakan diminum kopinya" kataku sambil mempersilahkan wanita itu untuk segera meminum kopi itu.
Akupun berjalan lagi ke tempat dimana semestinya aku duduk, namun di tengah-tengah perjalanku menapak lantai kafe ini yang semakin menjauh
"Oh ya mas.. Nama kamu siapa? Kita setiap hari sering ketemu di kafe ini, tapi kamu kok nggak pernah ngenalin diri kamu?
Suara itu, iya suara itu. Segera ku palingkan tubuhku hingga berputar 180 derajat dan menghadap ke arah wanita itu.
"Saya, maksud kamu?"
"iya, siapa lagi? Ayo duduk bareng!"
Wanita itu mengajakku untuk duduk dan berkenalan dengannya. Tapi aku belum siap untuk memberitahukan siapa aku sebenarnya. Aku hanyalah seorang Barista, sudihkah ia berjabat tangan denganku?
Ah! Sudahlah aku juga menginginkan hal ini. Segera ku langkahkan kakiku ke meja bar tempat gadis itu berada.
"Kenalin.. Namaku Anita! Nama kamu siapa?"
Wanita ini menjulurkan tangannya ke arahku. Tanpa harus berfikir apapun lagi akupun menyambut tangannya yang sedari tadi menjulur itu dengan menjabatkan tangan diantara kami berdua.
"Aku Agam"
Malam itu.. 08 Desember
*****
Malam sudah larut. Tak ku sangka perkenalan kita hanya sebatas dalam sebuah perkenalan nama saja. Tapi tak apalah itupun sudah lebih dari cukup bagiku dari pada harus terus penasaran untuk mengetahui siapa namanya.
Bersama hembusan angin malam itu perlahan-lahan ingatan tentang kejadian tadi semakin memburam dari pikiranku.
Dinginnya kota ini membuat aku ingin sekali memeluk secangkir kopi raksasa yang hangat agar dapat mengusir angin-angin bandel ini yang semakin menusuk hingga ke bagian kulit terdalam.
Dengan mengendarai sepeda motor yang sudah kelihatan tua ini, ku telusuri tiap-tiap sudut kota ini untuk mencari secangkir kopi hangat raksasa untuk ku peluk. Tapi seperti itulah diriku, selalu membayangkan hal-hal yang tabuh untuk menjadi sebuah kenyataan.
Menelusuri tiap sudut jalan di kota ini terhenti di sebuah kontrakan yang berkuran kira-kira 20×10 meter.
Memangnya itu tempat tinggal siapa lagi, kalau bukan tempat tinggalku.
Di kontrakan kecil inilah aku dan ibuku tinggal, ruangan yang terasa sempit dan hanya mempunyai dua kamar tidur saja. Semenjak kepergian ayahku, hidup kami berdua terasa sengsara. Terlebih ayah tidak meninggalkan apapun untuk kami terkecuali hanyalah hutang yang bisa di bilang jumlahnya sangat fantastic. Hingga ibu terpaksa harus menjual segalanya termasuk rumah kami. Aku rela mengorbankan kuliahku hanya untuk membantu ibu melunasi hutang-hutang ayah. Berhenti kuliah dan bekerja sebagai barista di salah satu kafe di kota ini terkadang membuatku meneteskan butiran-butiran air yang memang tak ku inginkan jatuh, namun apapun itu pasti akan tetap jatuh. Hidupku terlalu sengsara.
Perlahan-lahan aku masuk kedalam rumah. Ku lihat dari balik tirai kamar ibuku telah tertidur lelap. Nampaknya dia sudah terlalu lama menungguku sampai dia bisa tertidur masih dalam keadaan duduk dengan kepala yang masih tertunduk.
Dalam setiap sujudku diatas sajaddah berwarna biru itu selalu ku sisipkan doa untuk ibu. Kalaupun nafas ini tak mengizinkan untuk ia di hembuskan lagi. Apapun itu, akan ku lakukan untuknya. Sesosok wanita tua yang telah merawatku lebih dari 18 tahun. Di dalam keheningan malam kurenungkan nasibku kembali. Walaupun kepala ini harus bolak-balik terbentur ke dinding putih yang keras itu.
Tapi selalu ku coba untuk melupakan segalanya. Meskipun otakku telah bekerja keras untuk mencerna ingatan itu agar larut entah harus dalam bentuk apa. Tetap tak bisa.
Kejadian itu..
15 Maret setahun yang lalu..
Tapi tak perlu di ceritakan. Cerita itu terlalu besar dan sesak hingga aku sendiri tak mampu lagi untuk bernafas dan otakku tak mampu untuk mencernanya hingga lumat.
Kuletakkan tubuhku hingga dalam keadaan rilex. Kejadian tadi masih saja berputar-putar di kepalaku hingga aku tampak seperti orang gila dengan senyuman manis yang memang di mata orang lain tak ada artinya.
"Kamu belum tidur Agam?"
Suara itu tiba-tiba terdengar dari balik tirai kamarku. Kemudian ibu datang menghampiriku
"Kok senyum-senyum sendiri?"
"Ga kenapa-napa kok bu... Cuma tadii.."
"Cuma apa?"
"Sudahlah bu.. Ibu tidur aja, ibu kan capek! Sini biar aku anter ke kamar ibu ya!" kataku menawarkan.
****
Suara lolongan anjing subuh itu seketika membangunkanku. Ku sempatkan waktu yang tersisa ini untuk shalat sebelum aku berangkat ke pasar untuk membawakan barang dagangan ibu ke orang kepercayaannya.
"Ya Allah.. Sehatkanlah ibuku, sayangi dia Ya Allah.. Sebagaimana engkau menyayangi hamba-hambamu yang beriman. Panjangkanlah umurnya, sampai aku bisa membangunkan senyuman di bibirnya ketika ia melihat aku sukses nanti. Amin.
Doa itu lagi yang aku ucapkan. Doa yang selalu ku panjatkan dengan tangan penuh kerendahan untuk meminta di atas sajaddah itu lagi.
Sejuknya udara di pagi ini tak lepas dari pemandangan indah di ufuk timur. Keindahan masih terpancar di balik gunung itu. Cahaya Sunrise. Kini telah menyinari sebagian kota kecil ini.
"Indah" kata itu terucap.
****
Mentari semakin menunjukan keganasannya, panasnya kini seakan menusuk hingga bagian kulit terdalam. Asap-asap knalpot motor racing anak-anak sekolahan seakan membuatku sedikit tidak bisa bernafas, rasanya sesak sekali. Mungkin olinya belum diganti tapi dengan bangganya mereka memainkan asap-asap tebal itu di depan motorku.
Entah berapa lama lagi lampu merah ini akan berubah warna, rasanya aku ingin sekali menyumpal knalpot mereka dengan jaket yang sedang ku pakai.
5,4,3,2,1 segera mereka melaju kencang.
Setelah motor tua yang aku kendarai ini berjalan sejauh 500 meter, tiba-tiba penyakit motor tua ini kembali kambuh.
"Sial!, kenapa harus mogok sekarang sih? Telat 5 aja nanti gajiku bisa di potong lagi!"
Tak ada bengkel di sekitar sini, ku stater motor ini berkali-kali.
"Kalo gue udah punya duit, gue ganti lo baru tahu!" kataku sebal sambil menendang kecil motor tua itu.
"Bengkel" ku cari tempat dengan logo itu di sekitar lokasi itu, tapi seakan keadaan tidak berpihak padaku saat ini. 10 menit berlalu, tak ada orang yang dapat ku mintai bantuan.
Di tengah lamunanku sambil menopang dagu di tepi jalan untuk menunggu bajaj, sebuah mobil sedan berwarna silver tengah kenuju ke arahku. Pengendara itu kemudian menurunkan kaca mobilnya.
"Hey! Kamu ngapain di sini?"
"Anita?" aaa..aa..aku lagi nungguin bajaj, motorku mogok nih!" jawabku terbata-bata. Keindahannya seolah menghipnotis suasana panas saat ini, lidah api matahari seakan mengilang berganti butiran-butiran salju.
"Kamu mau ngak aku anterin?"
Keindahannya, begitu....
"Halooo... Kamu mau ngak aku anterin?" katanya sambil melambaikan tangannya kearah wajahku.
Lamunanku terhenti..
"Aaapa?.. Apa?"
"Kamu mau ngak aku anterin? Kamu udah telat kan?"
"Iya"
Tak kusangkam dia begitu baik, tak hanya cantik. Namun dia bagaikan penolong bagiku, hingga akhirnya akupun naik mobil bersamanya. Di putarnya lagu-lagu klasik era 90-an di dalam mobil sedannya itu.
"Kamu pecinta lagu klasik ya?" tanyaku sambil mentapnya.
"Lumayan suka sih! Oh ya,nanti motor kamu aku aja yang bawain ke bengkel biar nanti kamu abis kerja aku anterin ke bangkel" Jawabnya sambil menawarkan.
"Udah, ngak apa-apa kok! Aku bisa sendiri"
"Kamu ngak usah gengsi gitu ah!" katanya sambil tertawa kecil.
Tak kusangka kamipun sampai di Cafe tempat aku bekerja. Tepat, jalan Patimura No. 20. Akupun turun sambil mengucapkan "Terima Kasih ya"
Sambil melambaikan tangannya, diapun berbalik arah.
Komentar
Posting Komentar