Jika Tuhan
Jika Tuhan
Tak terhitung
seberapa banyak kalimat doa yang selalu ia panjatkan dalam shalatnya. Tak
terhitung seberapa banyak tetesan air mata yang selalu ia jatuhkan. Dalam
setiap sujudnya selalu tersisip doa yang selalu ia ucapkan di balik kalimat
"Subhana Rabbial A'la Wabihamdih". Terkadang ia sendiri tak tahu,
kenapa doa yang selalu ia panjatkan tak pernah terkabul. Selalu ada gumaman
kecil dalam hati kecilnya "Apa Tuhan sudah bosan untuk mendengar
doaku?"
"Apa Tuhan hanya sibuk mengabulkan doa
hambanya yang lain?"
Namun kata-kata itu. Segera di hilangkan
dengan mengucap Astaghfirullahhaladzim beberapa kali hingga akhirnya hatinya
tenang.
Namun selalu timbul keraguan-keraguan kecil
dalam hatinya hingga hatinya bertanya-tanya.
"Apa Tuhan itu tidak ada? Tapi jika
Tuhan itu tidak ada! Lalu kenapa ia selalu menampakkan adanya kehadirannya di
seluruh belahan bumi?
"Apa Tuhan itu tuli? Tapi kenapa ia
bisa mendengar dan mengabulkan doa-doa hambanya yang lain?"
Keraguan itu seakan tiba-tiba buram dan
menghilang seperti sekumpulan debu yang seketika terbang di tiup angin hingga
entah kemana.
Segera ia buka surah Al-Hashr sebagai obat
pengusir segalanya yang ia rasakan. Tiga ayat terakhir surah itu sudah menjadi
obat baginya semenjak beberapa bulan yang lalu. Ayat-ayat yang berisi beberapa
asmaul husna di dalamnya itu yang terkadang membuat hati tenang semakin tenang,
hingga tak ada lagi keraguan di dalamnya.
Pukul 2 lebih 35
menit pagi, masih saja ia mengenakan sarung bercorak hijau dan biru itu dengan
sikap kaki duduk bersila. Tangannya terus menadah memohon dan meminta kepada
tuhannya. Tangannya terus saja bergetar di saat kalimat ayat 21 surah Al-Hashr
itu terngiang lagi, "Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada
sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan
ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk
manusia supaya mereka berfikir." Kalimat itu yang selalu membuat ia takut
hingga ia berusaha mengusir semua keraguannya terhadap Allah Tuhan semesta
alam.
Air matanya jatuh
lagi, seakan tak ada kalimat doa lagi yang ingin dia panjatkan dalam shalat
thahajud kali ini. Tapi kalimat bosan yang ia ucapkan seakan tak ada lagi.
Mungkin saat ini Tuhannya telah mendengar doanya. Sebab dia tahu Tuhannya
takkan pernah membiarkan hambanya larut dalam kesedihan. Tapi ia hanyalah
seorang hamba yang lemah, yang seakan tak mampu berjalan sendian di muka bumi
ini.
Sebuah nama
tertulis indah dengan tinta biru di balik lembaran akhir Al-Qur'an itu. Nama
yang masih tertulis jelas dengan huruf-huruf yang sedikit bengkok. Ia tertawa
kecil dalam hatinya, ketika namanya tertulis di Al-Qur'an itu. 10 tahun yang
lalu, disaat ia berusaha belajar menulis dalam bahasa Urdu menggunakan pulpen
tapi tulisannya tak sebagus aslinya. Sulit baginya untuk mengikuti tiap
lengkungan-lengkungan kecil tulisan dalam Al-Qur'an itu.
Kesunyian malam itu seolah pecah ketika
terdengar suara musik DJ. Musik itu seakan ingin sekali memecahkan kaca jendela
kamarnya. Di lihatnya sekumpulan para remaja seusianya yang tengah asik meminum
minuman keras dan menggoyang-goyangkan tubuh mereka mengikuti irama musik di
malam itu.
"Apa Tuhan tidak murka dengan perbuatan
mereka?" Gumaman kecil itu muncul lagi dalam lubuk hatinya yang terdalam.
"Mengapa Tuhan tidak langsung mengambil
saja nyawa mereka?"
"Mengapa Tuhan tidak mengambil saja
tangan-tangan jahat mereka?"
"Mengapa Tuhan tidak membuat kaki
mereka lumpuh saja?"
Namun seketika ia melihat seakan ada cahaya
putih yang menembus kaca jendelanya hingga ia merasa cahaya tersebut ada dalam
hatinya.
"Jika Tuhan.. Mengambil nyawa mereka
sekarang, apa mereka sudah mempersiapkan segala amalan baik untuk di
pertanggung jawabkan di hadapan Tuhan nanti?"
"Jika Tuhan.. Mengambil
tangan-tangan mereka, bagaimana cara
mereka untuk meminta pengampunan kepada Tuhannya nanti? Bagaimana cara mereka
untuk memberi sedekah nanti?"
"Dan jika Tuhan.. Membuat lumpuh kaki
mereka, bagaimana cara mereka untuk pergi ke rumah-rumah Allah nanti?"
Telah ia temukan
jawaban atas keraguannya, memang ia tahu Tuhannya tahu apa yang terbaik untuk
hambanya nanti.
Rasa kantuknya kini mulai datang, ingin
rasanya ia untuk tidur. Tapi ia takut akan satu hal, yaitu takut ketika ia tak
akan bangun dari tidurnya lagi. Ia teringat akan satu hal, ketika para sahabat
bertanya kepada Abu Bakar R.A tentang apa yang ia takutkan, namun Abu Bakar R.A
menjawab :"Hal yang aku takutkan, ketika aku tidur namun aku tidak akan
bangun lagi."
Namun segera ia baca 3 ayat terakhir surah
Al-Baqarah agar para malaikat dapat menjaga tidurnya dari gangguan syaitan.
Karena ia tahu, ketika seorang hamba akan tidur maka malaikat dan syaitan
berebut untuk menjaga seorang hamba yang akan tidur.
Setelah ia membacanya segera ia rapikan
tempat tidurnya, baru saja ia letakkan kepalanya di atas bantal yamg empuk itu,
tiba-tiba azan Subuh berkumandang. Ia sendiri tak menyadari bahwa sekarang
sudah pukul 4 lebih 30 menit. Sepertinya ia terlalu banyak merenung.
Tak sengaja sebuah kertas jatuh ke lantai
bertuliskan sebuah nama "Luqman" itulah namanya.
Mashaa allah 😍😂👍🙏
BalasHapusTq atas komentar postivnya..
HapusJgn lupa ikuti saya reponsible person
Jgan lupa untuk mengikuti koleksi saya dengan judul islamic
Sekali lagi jangan lupa yaa..
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus